Renungan hari ini: Dua Belas Nama, Satu Panggilan

Renungan hari ini: Dua Belas Nama, Satu Panggilan
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

mediasumatera.id – SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap murid Yesus termasuk kita, bukanlah orang-orang hebat. Namun Yesus telah memilih kita, menjadi murid-Nya adalah suatu anugerah istimewa yang harus kita syukuri.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 3: 13 – 19, yakni Yesus memanggil kedua belas rasul. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus naik ke atas bukit dan memanggil orang-orang yang Ia kehendaki. Dari sekian banyak pengikut, Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan diutus memberitakan Injil. Mereka bukanlah orang-orang hebat. Petrus yang spontan, Yakobus dan Yohanes yang dijuluki “anak guruh”, Matius si mantan pemungut pajak yang dicurigai, Simon si Zelot yang berjiwa pemberontak, dan yang lainnya dengan latar belakang serta kelemahan masing-masing. Tidak ada yang istimewa secara duniawi. Bahkan, di antara mereka ada yang kelak akan mengkhianati Yesus. Namun Yesus memanggil mereka bukan karena kesempurnaan, melainkan karena kesediaan HATI. Yang menarik, meski beragam karakter dan penuh keterbatasan, mereka memiliki satu spirit yang sama, yakni: kerelaan untuk mengikuti Yesus. Mereka datang sebagai pengikut yang ingin belajar, ingin dekat, dan siap diubah. Yesus tidak berhenti pada panggilan itu. Ia mengubah mereka dari sekadar pengikut menjadi rekan kerja. “Ia menetapkan mereka untuk menyertai Dia, dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil”. Kuasa yang diberikan bukan untuk pamer, melainkan untuk pelayanan; bukan untuk kemuliaan diri, melainkan untuk misi Kerajaan Allah. Demikianlah komunitas murid-murid pertama: rapuh, tetapi dipenuhi satu panggilan. Bukan komunitas sempurna, melainkan komunitas yang terus dibentuk, sehingga menjadi komunitas formatif. Bukan orang-orang hebat, melainkan orang-orang yang rela ditempa. Dan hari ini, panggilan yang sama masih bergema. Kita pun bukanlah orang-orang hebat. Kita memiliki nama, karakter, dan kelemahan masing-masing. Namun Yesus telah mendayai kita, sehingga kita mampu bertahan hingga saat ini. Oleh
karena itu, kita tidak perlu menyombongkan diri. Ingatlah bahwa kita bukan siapa-siapa. Rendah HATI dan RELA dibentuk adalah kunci agar kita dapat menjadi rekan kerja Kristus. Sebab di tangan-Nya, kerapuhan dan kelemahan bukan akhir cerita, dan keterbatasan bukan halangan. Dia yang memanggil, Dia juga yang akan mendayagunakan kita. Dia yang memilih, Dia juga yang akan mengubah, dan mengutus kita. Akhirnya, renungan ini mengingatkan kita bahwa dalam gereja dan komunitas iman saat ini, Tuhan tetap memakai orang-orang biasa termasuk kita dengan segala keunikan dan kelemahan kita, untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa. Bukan karena kemampuan kita, melainkan karena panggilan dan penyertaan-Nya. Dua belas nama, satu panggilan, dan kini, panggilan itu juga sampai kepada kita masing-masing saat ini. Ingat, profesi kita yang kita jalani saat ini, dimaknai sebagai panggilan Tuhan.

Baca Juga :  Berdoa Dengan Tidak Jemu-jemu

Pertanyaan refleksi

1. Dari latar belakang dan kelemahan para murid Yesus, bagian mana yang paling mengingatkan Anda pada diri sendiri, dan bagaimana Tuhan sedang membentuk Anda melalui hal itu?
2. Apakah selama ini Anda lebih sering merasa sebagai “pengikut” saja, atau sudah mulai belajar menjadi “rekan kerja” Kristus dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari?
3. Bagaimana sikap rendah hati dan kesediaan untuk dibentuk dapat nyata terlihat dalam komunitas iman atau pelayanan Anda saat ini?
Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus,
Terima kasih karena Engkau memanggil kami yang lemah dan biasa, sama seperti para murid-Mu dahulu. Bentuklah HATI kami agar rendah HATI, setia, dan rela diutus untuk melayani. Biarlah hidup kami menjadi saksi kasih dan kuasa-Mu. Amin.